
Lampung, 29 September 2026 — SLBN PKK Provinsi Lampung menyelenggarakan kegiatan seminar parenting dengan tema “Temani, Latih, Percayai: Langkah Orangtua Mengantarkan ABK Menuju Kemandirian.” Kegiatan ini menjadi ruang belajar dan refleksi bagi orang tua dalam memahami pentingnya menumbuhkan kemandirian anak berkebutuhan khusus (ABK), baik di lingkungan keluarga maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Seminar parenting ini menghadirkan Ibu Octa Reni Setiawati, S. Psi., M. Psi., Psikolog sebagai pemateri. Melalui materi yang disampaikan, orang tua diajak untuk melihat kemandirian bukan sebagai sesuatu yang harus dikuasai anak secara instan, melainkan sebagai kemampuan yang tumbuh melalui proses pembelajaran, latihan yang konsisten, serta dukungan yang tepat dari orang-orang di sekitarnya.
Menemani, Melatih, dan Memercayai Proses Anak
Salah satu hal penting yang menjadi perhatian dalam membangun kemandirian anak adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangannya. Niat orang tua untuk membantu tentu lahir dari kasih sayang. Namun, ketika setiap kebutuhan anak selalu diselesaikan oleh orang lain, anak dapat kehilangan kesempatan untuk belajar melakukan sesuatu secara mandiri.
Kemandirian bukan berarti anak harus mampu melakukan segala hal tanpa bantuan. Kemandirian adalah kemampuan anak untuk mengurus dirinya dan menjalankan aktivitas sehari-hari sesuai dengan potensi yang dimiliki, dengan bantuan yang diberikan secara proporsional.
Melalui tema “Temani, Latih, Percayai”, orang tua diajak memahami tiga langkah penting. Temani, yaitu hadir untuk memberikan rasa aman dan dukungan. Latih, yaitu membimbing anak melalui latihan sederhana yang dilakukan secara bertahap. Percayai, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, berproses, dan menunjukkan kemampuannya.
Melatih Kemandirian dari Aktivitas Sederhana
Kemandirian dapat dibangun melalui kegiatan sehari-hari yang dekat dengan kehidupan anak. Orang tua dapat memulai dari aktivitas sederhana, seperti mencuci tangan, mengenakan pakaian, merapikan tempat tidur, menyimpan barang pada tempatnya, hingga memenuhi kebutuhan pribadi lainnya.
Agar lebih mudah dipelajari, suatu kegiatan dapat dibagi menjadi beberapa langkah kecil. Misalnya, dalam kegiatan mencuci tangan, anak dilatih membuka keran, membasahi tangan, menggunakan sabun, menggosok tangan, membilas, menutup keran, dan mengeringkan tangan.
Bantuan juga perlu diberikan secara bertahap. Pada awal latihan, anak mungkin memerlukan bantuan fisik. Seiring meningkatnya kemampuan, bantuan dapat dikurangi menjadi isyarat atau petunjuk visual, kemudian arahan verbal, hingga anak mampu melakukannya sendiri sesuai kemampuannya.
Penggunaan jadwal visual, gambar petunjuk, label pada tempat penyimpanan, dan rutinitas yang konsisten juga dapat membantu anak memahami urutan kegiatan. Apresiasi yang spesifik, seperti “Hebat, Kakak berhasil mengenakan baju sendiri!”, dapat menjadi penguatan positif bagi usaha dan keberhasilan anak.
Dukungan yang Disesuaikan dengan Kebutuhan Anak
Setiap anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, latihan kemandirian perlu disesuaikan dengan kondisi, kemampuan, serta cara belajar masing-masing anak.
Bagi anak tunanetra, penataan rumah yang konsisten dan penggunaan tanda yang dapat diraba dapat membantu anak mengenali lingkungan. Anak tunarungu dapat terbantu melalui papan gambar kebutuhan, isyarat visual, serta sinyal cahaya atau getaran. Anak tunagrahita dapat dilatih menggunakan urutan gambar untuk kegiatan sehari-hari, sedangkan anak tunadaksa dapat dibantu dengan alat yang lebih mudah digunakan, seperti perekat atau alat makan yang disesuaikan.
Sementara itu, dukungan visual seperti papan First–Then dapat digunakan untuk membantu anak dengan autisme memahami urutan kegiatan. Anak dengan GPPH/ADHD dapat berlatih melalui tugas-tugas singkat yang diselingi waktu istirahat, dengan lingkungan belajar yang lebih teratur dan minim gangguan.
Berbagai strategi tersebut menunjukkan bahwa membangun kemandirian bukan tentang memaksakan kemampuan yang sama kepada semua anak, melainkan menemukan cara yang sesuai agar setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang.
Kemandirian sebagai Bekal Masa Depan
Kemandirian memiliki peran penting dalam mempersiapkan anak menghadapi kehidupan di masa depan. Kemampuan menjaga kebersihan diri, mengikuti instruksi, menyelesaikan rutinitas, dan melakukan aktivitas sehari-hari dapat menjadi fondasi bagi pengembangan keterampilan yang lebih kompleks, termasuk keterampilan vokasional.
Ketika anak mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan berhasil melakukan sesuatu, rasa percaya diri dan penghargaan terhadap dirinya juga dapat tumbuh. Anak belajar bahwa dirinya memiliki kemampuan, dapat berusaha, dan mampu mengambil bagian dalam kehidupan sehari-hari.
Di lingkungan sekolah, kemampuan dasar tersebut turut mendukung proses pembelajaran. Ketika anak semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya, guru dapat memberikan lebih banyak perhatian pada kegiatan pembelajaran dan pengembangan potensi peserta didik.

Sinergi Orang Tua dan Sekolah
Upaya membangun kemandirian tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kerja sama antara keluarga dan sekolah. Kebiasaan yang dilatih di sekolah akan lebih bermakna apabila dilanjutkan di rumah dengan cara yang selaras.
Orang tua dapat memulai dari tiga langkah sederhana: memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba sebelum langsung membantu, menerapkan aturan dan rutinitas secara konsisten, serta memberikan pujian yang jelas atas usaha yang dilakukan anak.
Setiap kemajuan, sekecil apa pun, patut dihargai. Anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menguasai suatu keterampilan, tetapi proses latihan yang berulang dan dukungan yang tepat dapat membuka peluang bagi anak untuk berkembang sesuai potensinya.
Melalui seminar parenting ini, SLBN PKK Provinsi Lampung berharap orang tua semakin memahami perannya dalam mendampingi anak menuju kemandirian. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan anak berkebutuhan khusus merupakan perjalanan bersama yang membutuhkan keterlibatan keluarga dan sekolah.
Tujuan akhirnya bukan menjadikan anak sempurna dalam segala hal, melainkan membantu anak menjadi lebih berdaya, percaya diri, dan mampu melakukan hal-hal yang bermakna bagi kehidupannya. Dengan menemani, melatih, dan memercayai prosesnya, orang tua turut menyiapkan bekal bagi anak untuk menjalani masa depan dengan lebih mandiri.




